Berlari kecil mengikuti langkah kakimu yang masih basah
Bunga trotoar menghiasi jalan
Tegur setiap pandangan
Singgah dan bergumam
Saat pagi datang
Mereka kembali ke loong perang
Mencari menit untuk kembali ke trotoar

Mereka hanya bertengger
Diabagian sudut bangunan
Yang kusam tak pernah terbakar
Gerimispun terus bermain dengan lampu – lampu kota
Dentingan gitar musisi jalanan
Temani setiap persimpangan
Namun ada mata yang lelapnya tidur
Dibalik selimut yang hangat
Menyusul pagi untuk kembali bernyanyi
Tapi mereka tetap ada di trotoar malam ini

Obrolan  —  Posted: 29/05/2013 in Tulisanku

Ibu

Ibu..
Gelap ku rasa malam ini
Hujan diluar kamarku beronta
Seakan tembus dinding pertahanan
Ku rindukan satu belai darimu
Agar ku tetap bertahan
Saat ku berjalan di tepi jurang bodohnya zaman

Entah berapa malam yang ku lewatkan
Telah begitu banyak pagi yang ku lalui
Tanpa tegukan hangat sarapan
Saat ku duduk dimeja makan
Dengan canda dan celoteh yang ku rindukan

Perlahanpun siang menjemput malam
Aku masih sendiri
Dalam kamarku yang semangkin sunyi
Dengan sisa senyumku
Untuk menyapa mentari esok pagi

Obrolan  —  Posted: 29/05/2013 in Tulisanku

Kau bersenandung
Kau iku bersedih
Kau lobangi tempat kami berjalan
Tapi kami lahir dari hati yang terang
Menggempuar ruang yang terkekang

Kau sejukan
Hingga mentari tak kurasa hangatnya
Nyata sinarnya telah kau simpan
Biar kau tenang menuju malam
Ku terdiam
Letakan kepala di atas kepalan
Menatap langit ku lihat tangan mengacungkan
Ku hitung satu lebihi seribu pertanyaan

Nyata kita jauh
Lelah dan penat yang tertawakan
Kemana kita berjalan
Nyata kita tidak bisa bedakan setan

Obrolan  —  Posted: 29/05/2013 in Tulisanku

Dalam bisu ku nikmati kisah meratap
Coba untuk berpaling lenggokan tangan
Seakan air ludahku genggam tenggorokan
Ku ditampar oleh kisah dari jalan
Paksaku menenggadah
Lihat pendosa di atas kereta

Turunlah dari kencanamu
Biar kakimu sentuh oleh keringat
Merangkak takut akan abadimu
Dari jeritan ditengah malam
Gilas senyum mereka
Kubur angan dan mimpi

Jangan tunggu tentara ku bangun
Antar dirimu ke ruang kusam
Temani rayap dan takutnya
Bau busuk di dingin malam
Terhempas seperti binatang
Bebaskan jiwa – jiwa yang kau genggam
Bersihkan kelammu dengan air mata
Mengemis pada maha di atas sana

Obrolan  —  Posted: 29/05/2013 in Tulisanku

Berkibarlah benderaku
Luluh dan luntur tetap bertahan
Untuk kami dimasa depan
Kenapa diam kau garudaku
Apakah sayapmu terbuat dari batu
Menenggadah kokoh kau menatap

Lihatlah kebawah garudaku..!
Semua telah dibakar api semalam tadi
Lihat sawah dan ladang
Bukan tempat bercanda lagi
Untuk para cucu petani

Turunlah kau dari dahan itu
Mungkin mereka sudah lupa dengan ibu
Berkicaulah untuk para tikus yang najis
Tak temukan tempat lagi untuk bersembunyi
Dari sabang sampai merauke
Nyata kau tidur garudaku
Tetanggaku hiba melihat nasibmu

Obrolan  —  Posted: 29/05/2013 in Tulisanku

Tak lagi bisa ku menyelam
Lihat indahnya mutiara
Tak tau betapa tiggi bukit itu beri aku janji
Ku hnya lewati lubuk yang siap tenggelamkan ku
Habis waktu ku menujumu
Terbang hanya ditiup angin
Entah dimana aku akan di tetaskan
Saat nanti aku kembali dilahirkan

Ku rasakan sejuk embun yang turun
Mendinginkan lahar menuju lembah
Bekukan sendirianku yang lemah
Kini ku kuat berjalan
Dengan hadirnya dengan jiwaku yang kalah

Tapi mentari naiki
Mencari malam yang berbintang
Hingga embun mulai hilang
Membuat hariku kembali kelam
Namun senyumku menang
Karena mentari telah menemukan malam yang berbintang

Obrolan  —  Posted: 25/05/2013 in Tulisanku